Hampir semua orang memiliki idola yang menjadi patokan sebuah tolak ukur untuk menjelaskan tentang dirinya sendiri. secara terang-terangan atau tidak, setiap orang melihat idola sebagai cerminan.

apakah saya sudah seperti dia atau belum ? itu mungkin yang selalu menjadi pertanyaan sebagai patokan sebuah kesuksesan.

sering kali terjadi, kita ingin seperti idoal tetapi kita tidak mau bekerja sekeras yang idola kita lakukan.

saya suka follow orang-orang yang menurut saya adalah mereka yang layak dijadikan sebagai cerminan seperti robert t.kiyosaki, richard branson, garyvee dan mereka yang menurut saya layak dijadikan sebagai tolak ukur atas apa yang saya lakukan saat ini.

kadang saya malu kepada diri sendiri ketika melihat mereka. usia sudah beruban putih tapi selalu ada hal baru yang mereka lakukan. menjadi lebih sukses dan lebih bermanfaat bagi banyak orang.

sedangkan saya apa, siapa saya sehingga bisanya bermalas-malasan sementara orang yang saya kagumi bekerja 10x jauh lebih keras. mereka sebelum subuh sudah pergi ke bandara untuk sebuah pertemuan di australia, amerika, prancis kemudian pulang naik pesawat kembali kerumah.

jangan berharap mendapatkan hal yang beda jika tetap melakukan hal yang sama. mungkin quotes ini yang menjadi tolak ukur perbedaan antara kita dan mereka.

coba deh bayangin. kita ingin seperti idola tapi yang kita lakukan tidak seperti yang mereka kerjakan. seharusnya jika kita ingin menjadi dokter terbaik, kita harus melakukan pekerjaan seperti yang dokter terbaik lakukan. setiap keberhasilan selalu memiliki jejak, masalahnya kita sering sekali tidak melihat jejaknya. yang kita lihat adalah hasilnya.

logikanya begini, mereka yang sudah tajir-terkenal-sukses saja masih terus melakukan promosi, masih berjualan, masih tetap membuat sebuah konten, masih terus belajar, semisal mereka berhenti dari pekerjaan mereka saat iniĀ  mungkin mereka masih dikatakan sebagai lambang kesuksesan bagi banyak orang.

nah, kita siapa? saya siapa? sukses aja belum, dikenal orang belum, tajir belum, giliran soal kerjaan biasa-biasa aja. bagaimana harapan bisa menjadi seperti idola jika tidak mau bekerja sekeras mereka ?

seharusnya saya tidak menulis tulisan ini, seharusnya saya sedang bekerja keras. tapi mungkin dengan tulisan ini ada orang lain yang mau bekerja keras lebih keras dari pada idolanya.